Keponakan Setya Novanto Terkena Ancaman 12 Tahun Penjara Terkait Kasus e-KTP - SitusInfoPedia | SitusInfoPedia.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 06 November 2018

Keponakan Setya Novanto Terkena Ancaman 12 Tahun Penjara Terkait Kasus e-KTP

Keponakan Setya Novanto Terkena Ancaman 12 Tahun Penjara Terkait Kasus e-KTP

INDONESIA - Keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi dituntut 12 tahun penjara terkait kasus korupsi proyek KTP Elektronik (e-KTP). Kolega Irvanto, Made Oka Masagung juga dituntut 12 tahun penjara oleh jaksa penuntut umum dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Selasa (6/11).

Keduanya dinilai bersalah sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat (1) e 1 KUH Pidana.

Baca Juga



situs qq uang asli terbaik dan terpercaya

SITUS JUDI QQ TERBAIK



SitusInfoPedia.com - Jaksa Penuntut Umum menyatakan Irvanto Hendra Pambudi dan Made Oka Masagung telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah secara bersama-sama melakukan tindak pidana korupsi.

Selain pidana 12 tahun, jaksa juga meminta hakim menjatuhkan pidana denda subsiden 6 bulan kurungan.

Pengacara Irvanto, Soesilo Ariwibowo keberatan atas tuntutan jaksa ini. Menurutnya, Irvanto bukan pelaku utama dalam kasus ini, hanya sebagai pengacara.

"Peran pak Irvanto sebagai mana yang dibacakan tadi hanya sebagai perantara, sangat berat tuntutannya." ujar Soesilo.

Hakim Ketua mempersilahkan Irvanto dan Made Oka mengajukan pledoi pada sidang lanjutan yang akan digelar pada 21 November mendatang.

Antar Jutaan Dollar Duit e-KTP ke Anggota DPR



Keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo mengaku mengantarkan uang jutaan dolar AS dan dolar Singapura kepada sejumlah anggota DPR terkait proyek e-KTP.

Hal ini diungkapkan Irvanto saat menjalani persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Selasa (18/9).

"[Melchias] Mekkeng dan Markus [Nari] saya berikan SGD1 juta di ruangan Setya Novanto," kata Irvanto dikonfirmasi SitusInfoPedia melalui sambungan telepon.

Kemudian, Irvanto mengaku memberikan uang kepada politikus Golkar Ade Komarudin sebesar USD700 ribu di seberang ruangan Setya Novanto. Dia juga menyerahkan uang ke politikus Golkar lainnya Agun Gunanjar sebanyak USD1,5 Juta sebanyak dua kali.

"Pertama saya serahkan USD500 ribu di Senayan City dan USD1 juta di Kalibata," ujar dia.

Dia juga mengantarkan uang sebanyak dua kali kepada anggota dewan Chairuman, yakni pertama kepada anaknya sebesar USD500 ribu dan kedua Irvanto mengantarkan langsung ke Chairuman sebesar USD1 juta di Hotel Mulia.


Selain itu, dia juga mengaku menyerahkan uang kepada Jafar Hafsah USD100 ribu dan Nurhayati Assegaf USD100 ribu.

"Total semuanya gabungan dolar Singapura dan Amerika ada 4,9 juta," ujar dia.

Saat bertemu anak Chairuman, Irvanto mengaku bersama terdakwa lainnya, Made Oka Masagung. Namun hal itu dibantah langsung oleh Oka di persidangan.

Irvanto dan Made Oka telah didakwa sebagai perantara pemberi imbalan korupsi proyek e-KTP untuk Setnov. Keduanya turut berperan merugikan keuangan negara sebesar Rp2,3 triliun.

Dalam dakwaan, Irvanto disebut aktif melakukan pertemuan dengan Andi Narogong untuk membahas anggaran proyek e-KTP. Ia juga aktif terlibat dalam rencana pemberian fee bagi Setnov dan anggota DPR lainnya sebesar lima persen dari nilai proyek e-KTP.

Atas perbuatannya, Irvanto dan Oka didakwa melanggar pasal 2 ayat (1) atau pasal 3 UU Tipikor juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Keduanya sepakat tak mengajukan eksepsi atau nota keberatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here