KLHK Tegaskan Lakukan Kampanye Lingkungan Secara Beradab - SitusInfoPedia | SitusInfoPedia.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 28 November 2018

KLHK Tegaskan Lakukan Kampanye Lingkungan Secara Beradab

KLHK Tegaskan Lakukan Kampanye Lingkungan Secara Beradab

INDONESIA - Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan (KLHK) mengkritisi cara lembaga swadaya masyarakat (LSM) Greenpeace, dalam berkampanye.

Peneliti Pusat Litbang KLHK Chairil Anwar Siregar menilai, kampanye positif jauh lebih beretika, edukatif, serta bakal mendapat dukungan banyak pihak untuk ikut terlibat.

Baca Juga



SITUS JUDI QQ TERBAIK

SITUS JUDI QQ TERBAIK



"Cara Greenpeace menaiki kapal cargo asing dengan mengatasnamakan aksi damai lebih terkesan sebagai perompak. Cara seperti ini harus ditinggalkan karena tidak membawa perbaikan serta tidak penting bagi bangsa kita," kata Chairil kepada SitusInfoPedia.com yang dikutip dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (28/11).

Menurutnya, kampanye lingkungan harus mengarah kepada edukasi positif, agar berdampak bagi perbaikan lingkungan. Apalagi, industri sawit punya komitmen dan konsisten melakukan perbaikan dalam segala aspek termasuk lingkungan.

"Kalau tujuannya perbaikan lingkungan, banyak cara bisa dilakukan seperti berdiskusi dengan pihak-pihak yang mereka ragukan dengan difasilitasi pihak ketiga. Cara ini lebih beradab dan memberikan solusi jangka panjang," lanjutnya.

Industri sawit, ujar Chairil, memainkan peran penting dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable Development Goals /SDGs), di antaranya membantu mengurangi angka kemiskinan, peningkatan kesehatan, memberikan pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta penanganan perubahan iklim.

Karena itu, semua pihak termasuk LSM seperti Greenpeace patut menghormati tujuan pembangunan berkelanjutan, yang salah satunya mengatur tata cara dan prosedur masyarakat yang damai tanpa kekerasan, nondiskriminasi, partisipasi, tata pemerintahan yang terbuka serta kerja sama kemitraan multi pihak.

Chairil menambahkan, diskusi juga bisa menjadi cara organisasi lingkungan untuk mempunyai persektif lain mengenai perbaikan dan pemanfaatan lingkungan.

Dia mencontohkan, terkait emisi, hutan dan perkebunan sawit bisa dikomparasi. Hutan alam umumnya mempunyai biomass 400 ton dan menghasilkan karbon 200 ton per ha. Sementara itu, perkebunan sawit umur 10 tahun hanya menghasilkan biomass sebesar 100 ton per ha.

"Secara kasat hutan alam menghasilkan karbon lebih besar namun statis. Sementara itu, CPO yang dikeluarkan perkebunan sawit mampu menghasilkan karbon 30 ton per ha per tahun. Jika dikalikan 10 tahun saja, maka dihasilkan 300 ton. Kalau dijumlahkan karbon yang dihasilkan kebun sawit sama nilainya dengan hutan alam yang masih bagus," bebernya.

Karena itu, kalau boleh menyarankan, hutan alam itu, sudah rusak sebaiknya ditanam sawit. "Ini lebih baik dan produktif daripada hutan dibiarkan menjadi open access," lanjut Chairil.

Sementara itu, Pengajar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Sudarsono Soedomo menilai bahwa sebagian besar LSM asing di Indonesia tidak mematuhi prosedur dan aturan. Karena itu, dia mendesak agar pemerintah tegas dan tidak berkompromi. "Investigasi perlu dilakukan terhadap Greenpeace, serta LSM lain untuk mengetahui kepatuhan terhadap hukum Indonesia," ujar dia.

Sedangkan pengamat dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira menyarankan kampanye hitam harus cepat ditangani agar dampaknya tidak meluas terhadap neraca perdagangan dan investasi luar negeri. Apalagi, Indonesia terus mengalami defisit perdagangan sejak beberapa tahun terakhir.

"Pembiaran terhadap maraknya kampanye hitam bisa mengakibatkan nasib sawit akan seperti komoditas rempah-rempah, yang sekarang hanya kita dengar cerita kejayaannya saja," kata Bhima yang dilansir SitusInfoPedia.

Dalam perdagangan global, persoalan hambatan dagang dan kampanye hitam terhadap CPO dapat dipetakan ke dalam beberapa isu. Di Amerika Serikat isu dumping dan persaingan biofuel lebih mendominasi. Sementara itu, di Uni Eropa, sawit diadang persoalan lingkungan dan Hak Asasi Manusia (HAM). "Perlu lobi intensif agar persoalan itu, tidak dipolitisir menjadi kampanye hitam," lanjutnya.

Sebelumnya, sebanyak enam aktivis Greenpeace ditangkap usai aksi menaiki kapal tanker pengangkut CPO. Kepala Kampanye Hutan Global Greenpeace Asia Tenggara, Kiki Taufik menuturkan aksi tersebut merupakan protes damai.

"Kapten kapal tersebut telah diberitahu melalui saluran radio VHF tentang protes damai dan tanpa kekerasan ini. Namun, ia telah menahan para relawan di salah satu kabin kapal kargo," kata Greenpeace dalam pernyataan tertulisnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here