Pengacara Lucas Divonis Bantu Pelarian Eddy Sundoro dari KPK - SitusInfoPedia | SitusInfoPedia.com

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 07 November 2018

Pengacara Lucas Divonis Bantu Pelarian Eddy Sundoro dari KPK

Pengacara Lucas Divonis Bantu Pelarian Eddy Sundoro dari KPK

INDONESIA - Jaksa KPK mendakwa pengacara Lucas membantu pelarian tersangka KPK Eddy Sindoro. Dia didakwa bersama-sama seorang wanita bernama Dina Soraya.

"Bahwa terdakwa Lucas bersama dengan Dina Soraya telah melakukan atau turut serta melakukan dengan sengaja mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan terhadap tersangka Eddy Sindoro," ucap jaksa KPK Abdul Basir saat membacakan surat dakwaannya dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (7/11/2018).

Baca Juga



situs qq uang asli terbaik dan terpercaya

SITUS JUDI QQ TERBAIK



SitusInfoPedia.com - Eddy Sindoro merupakan mantan Presiden Komisaris Lippo Group yang dijerat KPK sebagai tersangka berkaitan dengan pengurusan perkara di pengadilan. Dia ditetapkan sebagai tersangka sejak 2016 dan kabur ke luar negeri selama 2 tahun sebelum menyerahkan diri.

"Terdakwa menyarankan Eddy Sindoro selaku tersangka untuk tidak kembali ke Indonesia serta mengupayakan Eddy Sindoro masuk dan keluar wilayah Indonesia tanpa pemeriksaan imigrasi untuk menghindari pemeriksaan oleh penyidik KPK," sebut jaksa.

Dalam melancarkan perbuatannya, Lucas disebut memerintahkan Dina membantunya. Dina menindaklanjuti perintah Lucas dengan meminta bantuan dari sejumlah orang termasuk petugas Bandara Soekarno-Hatta.

Lucas pun didakwa melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1.

Minta Persidangannya Ditunda



Pihak pengacara Lucas meminta proses persidangan kasus dugaan merintangi penyidikannya ditunda. Alasannya, Luca masih mengajukan praperadilan di PN Jaksel.

"Tadi di hadapan penyidik dan penuntut umum bahwa mohon sekiranya agar pelimpahan tahap 2 hari ini bisa ditunda karena pertama alasan kesehatan, beliau sakit dan pihak KPK sudah mengetahui sakitnya beliau. Kedua, yang paling penting pihak kami sudah mengajukan praperadilan ke pengadilan negeri Jakarta Selatan," kata kuasa hukum Lucas, Wa Ode Nur Zainab kepada SitusInfoPedia ditemui di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (26/10/2018).

Dia menilai penyidikan perkara dugaan merintangi penyidikan bukan kewenangan KPK. Dia juga mempertanyakan alat bukti yang dimiliki KPK.

"Terkait kewenangan, menurut kami berdasakan kajian dan beberapa diskusi baik ahli dan refrensi yang kami pahami bahwa pasal 21 UU Tipikor jelas tindak pidana lain. Bukan tindak pidana korupsi. Sementara di UU KPK maupun UU Tipikor, kewenangan KPK adalah melakukan penyidikan, penuntutan terhadap tindak pidana korupsi. Pasal 21 itu tindak pidana lain. Diberi kesempatan diuji dulu di PN Jakarta Selatan, di praperadilan," paparnya.

"Kedua terkait alat bukti. Sejak awal kami menanyakan paling tidak 2 alat bukti yang dimiliki penyidik untuk menetapkan bapak Lucas sebagai tersangka menghalangi proses penyidikan. Alat bukti itu belum pernah terkonfirmasi pada beliau," sambungnya.

Sebelumnya, KPK menyatakan Lucas segera disidang terkait kasus dugaan merintangi penyidikan Eddy Sindoro. Persidangan bakal digelar di PN Tipikor Jakarta Pusat.

"Hari ini (26/10) penyidik melimpahkan barang bukti dan tersangka LCS (Lucas) dalam perkara tindak pidana korupsi dengan sengaja mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan perkara suap pengajuan PK pada PN Jakarta Pusat dengan tersangka Eddy Sindoro, ke penuntutan. Sidang rencananya akan digelar di Pengadilan Tipikor pada PN Jakarta Pusat," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah, Jumat (26/10).

Dalam perkara ini, Lucas dijerat KPK atas dugaan membantu pelarian Eddy Sindoro. KPK sebelumnya memang mencari keberadaan Eddy Sindoro, yang telah ditetapkan sebagai tersangka sejak Desember 2016 dengan dugaan memberikan suap kepada Edy Nasution.

Edy Nasution saat itu menjabat panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Saat itu, Edy Nasution menerima uang suap dari Doddy Ariyanto Supeno sebesar Rp 100 juta pada April 2015.

Dari situ KPK mengungkap adanya 'dagang perkara' di PN Jakpus yang berturut-turut. Kini Eddy Nasution telah divonis 8 tahun penjara.

Sementara itu, setelah kabur sekitar 2 tahun, Eddy Sindoro menyerahkan diri dan kini telah ditahan KPK. Dia mengaku siap menjalani proses hukum terkait kasusnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here